Menjalani Hidup Bersama Orangtua yang Depresi

Mengetahui bahwa salah satu anggota keluarga memiliki depresi tidak pernah terasa mudah. Tetapi, ketika depresi klinis mempengaruhi orangtua Anda, keadaan mengharuskan peran anggota keluarga berbalik seratus delapan puluh derajat.

Depresi dapat menyebabkan masalah untuk orangtua Anda, termasuk dirundung kesedihan berkepanjangan dan mereasa letih lemah lesu setiap saat. Anda tidak punya pilihan selain untuk tumbuh dewasa dengan cepat, menjadi orang yang kini memegang tanggung jawab rumah tangga. Hal ini tidak hanya dapat menyebabkan masalah hubungan di rumah, namun juga di lingkungan sekolah/kerja Anda.

Anak dari orangtua yang depresi memiliki risiko tinggi terhadap penyakit mental dan fisik saat dewasa

Banyak jurnal medis di luaran sana yang telah menulis tentang dampak negatif dari depresi pada orangtua yang depresi terhadap anak-anaknya. Salah satunya, penelitian 20 tahun lamanya yang didanai oleh National Health Institute of Mental Health menunjukkan bahwa anak-anak dari orangtua yang depresi memiliki peluang hingga tiga kali lipat lebih tinggi untuk mengembangkan gangguan depresif major atau gangguan kecemasan (anxiety disorder) — terutama fobia — dua kali lipat risiko lebih besar terhadap ketergantungan alkohol, dan enam kali lipat peluang lebih besar mengembangkan ketergantungan pada obat-obatan.

Selain gangguan mental, anak-anak dari orangtua yang depresi melaporkan mengembangkan lebih banyak masalah kesehatan, terutama masalah jantung dengan peningkatan hingga lima kali lipat, dan rata-rata usia onset (permulaan gejala) pada awal hingga pertengahan usia 30-an.

Dilansir dari The Daily Beast, ketika orangtua di bawah tekanan emosional hebat, atau bentuk lain dari stres (depresi), hal tersebut dapat mengubah aktivitas genetik anak-anaknya setidaknya selama masa remaja dan mungkin terus hingga mereka bertambah dewasa. Dan karena beberapa gen yang diubah membentuk perkembangan otak, efek depresi orangtua mungkin akan terpatri secara permanen dalam otak anak-anak mereka.

Penyalahgunaan anak dan bahkan ibu yang depresi, studi menunjukkan, dapat mematikan gen pembangun reseptor hormon stres pada otak anak. Saat gen ini dibungkam, sistem respons stres anak berfungsi pada kondisi kritis, membuatnya akan sangat sulit untuk mengatasi kesulitan hidup, membuat orang tersebut lebih rentan terhadap upaya bunuh diri. Pada bayi dengan orangtua pengidap depresi atau gangguan kecemasan, mengalami pembungkaman gen reseptor hormon stres yang serupa, membuatnya  menjadi hipersensitif dan tidak mampu mengatasi stres di masa tumbuh kembangnya nanti. Studi-studi ini menunjukkan bahwa memiliki ibu yang depresi akan meninggalkan jejak pada DNA anak.

Tanda dan ciri orangtua yang depresi

  • Depresi dapat menampakkan wajah yang berbeda-beda pada setiap orang. Anda mungkin menyadari bahwa ayah atau ibu Anda telah kehilangan minat dan hasrat pada kegiatan yang biasanya mereka nikmati, misalnya hobi berkebun atau bermain golf, atau bahkan menghadiri acara keluarga.
  • Ayah atau ibu Anda mungkin mengekspresikan kesedihan, keputusasaan dan/atau ketidakberdayaan. Terkadang, keputusasaan bisa tidak tampak. Gantinya, ayah/ibu Anda mengumpat, mengomel, mengungkapkan kemarahan atau kekesalan, hingga mengeluhkan tentang gejala fisik seperti kelelahan, sakit dan nyeri, seperti sakit kepala, sakit perut, atau sakit punggung — dengan alasan yang tidak jelas.
  • Orangtua Anda mungkin tidur lebih lama atau lebih jarang dari biasanya. Atau, mereka mengalami kenaikan/penurunan berat badan drastis belakangan ini. Beberapa gejala lain yang mungkin dapat membantu Anda mengetahui perubahan dalam diri orangtua Anda adalah: minum alkohol berlebih atau terlalu sering merokok, penyalahgunaan obat-obatan (penggunaan berlebihan dari obat tidur atau penghilang nyeri), plin-plan, berantakan, dan cepat lupa.
  • Beberapa orang mungkin menunjukkan gejala fisik lebih sering daripada gejala emosionalnya. Umum bagi golongan usia menengah lanjut untuk mengidap depresi setelah kematian seseorang yang dicintai (pasangan, atau keluarga dekat, bahkan anak), kehilangan kemandirian (akibat usia atau masa pensiun), dan masalah kesehatan lainnya.

Memahami gejala depresi yang ditunjukkan oleh orangtua Anda penting untuk Anda bisa mendapatkan bantuan untuknya. Setelah Anda memahami isu seputar depresi, Anda mungkin akan lebih bersabar, tahu bagaimana baiknya menanggapi ‘tantrum’ orangtua Anda, dan memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap pilihan pengobatan.

Apa yang harus dilakukan untuk membantu orangtua yang depresi?

Anda tidak bisa mengendalikan depresi yang dimiliki oleh orang yang Anda cintai. Namun, Anda bisa, bagaimanapun juga, untuk menjaga diri sendiri. Sama penting untuk Anda untuk dapat tetap sehat, layaknya orangtua Anda agar tetap sehat untuk mendapatkan perawatan yang terbaik, sehingga jadikan kesejahteraan fisik dan mental Anda sebagai prioritas utama.

Anda tidak akan bisa membantu orang yang sakit jika Anda sendiri sakit. Dengan kata lain, pastikan Anda telah memenuhi kesejahteraan dan kebahagiaan untuk diri Anda sendiri sebelum Anda mencoba untuk membantu orang lain yang terpuruk. Anda tidak akan banyak berguna jika Anda justru ikut terpuruk di saat ingin membantu orangtua yang depresi. Saat kebutuhan diri sendiri berhasil terpenuhi, Anda akan memiliki energi yang Anda butuhkan untuk mengulurkan tangan.

1. Perhatikan gerak-geriknya

Orang-orang tua biasanya sering berkata “Nggak, saya tidak sedih,” atau “Nggak, saya nggak kesepian” karena mereka tidak ingin menjadi beban tambahan dalam keluarga. Maka dari itu, perhatikanlah gerak-gerik remeh namun tampak tidak biasanya, seperti meremas tangan berlebihan, cepat marah atau tersinggung, atau sulit untuk duduk tenang.

2. Ajak mereka bicara tentang perasaannya

Orangtua cenderung lebih sulit untuk mengatasi kehilangan dengan baik, tidak seperti kaum muda, karena tahun-tahun yang selama ini ia jalani menambah makna di balik momen tersebut.  Anda dapat membantu ayah/ibu Anda dengan mengakui arti penting di balik kehilangannya: Tanyakan pada ayah/ibu Anda apa yang mereka rasakan setelah kehilangan tersebut (“Bu/Pak, baik-baik saja? Saya cuma ingin ngecek keadaan ibu/bapak, karena belakangan ini saya khawatir. Mau cerita?”; “Sudah makan? Lagi apa, pak/bu?”; “Bagaimana saya bisa mendukung Anda saat ini?”).

Penting untuk mendengarkan tanpa menghakimi, serta menghormati perasaan mereka. Mendengarkan menawarkan kenyamanan dan dukungan langsung. Penting untuk diingat bahwa menjadi pendengar yang baik dan penuh kasih jauh lebih baik daripada memberi nasihat. Anda tidak harus mencoba untu “memperbaiki” orang tersebut; orang-orang tidak suka diperbaiki — Anda hanya harus mendengarkan dengan penuh perhatian.

Jangan berharap satu kali percakapan sederhana akan menyelesaikan masalahnya. Seseorang yang depresi cenderung menarik dan menutup diri dari orang-orang di sekitarnya. Anda mungkin akan perlu untuk mengekspresikan kekhawatiran Anda dan kesediaan untuk mendengar, lagi dan lagi. Perlahan, jangan memaksa, namun terus-menerus.

3. Ajak konsultasi dokter

Ajak orangtua Anda untuk menemui dokter atau seorang terapis guna mendiskusikan gejala yang ia alami. Depresi mebuat seseorang memiliki motivasi dan energi yang minim untuk melakukan sesuatu, bahkan beranjak pergi ke dokter. Oleh karena itu, akan lebih baik jika Anda yang membuatkan janji temu pertama kalinya (setelah persetujuan) dan menemani mereka selama sesi konsultasi berlangsung. Awasi terus rencana pengobatan orangtua Anda untuk memastikan bahwa ia mengikuti setiap langkah perawatan dengan baik, termasuk rutin minum obat dan menghadiri setiap sesi terapi.

4. Terus berada di sampingnya

Dukung ayah/ibu Anda untuk meneruskan terapi dan konsumsi obat-obatan hingga selesai, bahkan ketika mereka merasa sudah lebih baikan. Alasan dari kondisinya yang semakin membaik saat ini adalah karena pengobatannya. Jika ia memaksa untuk mmenghentikan obat-obatannya, bicarakan dengan dokter penanggungjawab orangtua Anda terlebih dahulu. Dokter mungkin akan merekomendasikan ayah/iibu Anda untuk menurunkan dosis obat secara perlahan sebelum benar-benar memutuskan pengobatan keseluruhan, sekaligus juga untuk mencegah gejala datang kambuh di kemudian hari.

Tugas-tugas rumahan yang tampaknya remeh bagi kita akan menjadi sangat sulit bagi pengidap depresi ntuk dapat dikelola. Tawarkan untuk membantu mengambil alih pekerjaan rumah tangga, namun ingat, jangan memaksa untuk melakukan segala hal untuk orangtua Anda yang Anda tahu dan yakin mereka bisa melakukannya sendiri, misalnya menyetir atau pergi berbelanja ke supermarket. Melakukan segala hal untuk orang yang depresi atas nama membantu meringankan beban mereka seringnya justru tidak membantu sama sekali, karena hal ini akan menguatkan persepsi mereka bahwa mereka benar tidak berdaya dan tidak berharga. Sebaiknya, bantu orangtua Anda mengerjakan sesuatu hal dalam porsi-porsi kecil dan pujilah mereka atas segala upaya yang mereka lakukan.

Sesekali, cek keadaan orangtua Anda dari waktu ke waktu, terutama jika Anda tidak lagi tinggal seatap dengan mereka. Minta seorang teman atau tetangga dekat yang Anda percaya untuk mampir ke rumah ayah/ibu Anda secara teratur. Jika gejala depresi tampak memburuk, hubungi terapisnya. Jika orangtua Anda berhenti merawat dirinya sama sekali, berhenti makan, dan mengisolasi diri, sekarang waktunya Anda campur tangan.

5. Awasi tanda-tanda bunuh diri

Jangan berharap orangtua yang depresi untuk dapat membaik dengan cepat. Kebanyakan antidepresan butuh waktu berminggu-minggu hingga efektif, dan mungkin butuh berbulan-bulan atau bahkan tahunan untuk menyelesaikan terapi. Latih kesabaranAnda dan juga orangtua Anda, serta tawarkan dukungan emosional.

Di waktu-waktu kritis seperti ini, pelajari tanda-tanda pemikiran bunuh diri yang mungkin ditunjukkan, seperti membicarakan dan memuliakan kematian, mengucapkan perpisahan, memberikan harta berharga, menyelesaikan segala urusan duniawinya, dan perubahan mood mendadak dari depresif hingga tenang.

Jika orangtua yang depresi menunjukkan sedikit saja tanda dan/atau keinginan untuk mengakhiri hidupnya, segera cari bantuan untuk menstabilkan dirinya. Jangan tinggalkan ia sendirian. Hubungi terapisnya, hubungi gawat darurat/polisi (118/110), atau bawa ia segera ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat. Segala tindak-tanduk yang menandakan keinginan bunuh diri harus disikapi secara serius sebagai tindakan gawat darurat untuk mencegah tragedi.